navigasi menu

Sunday, January 21, 2018

Pengalamanku pertama kali di meja Operasi (sesar)


Saya hanya ingin berbagi pengalaman dimana dari saya hamil sampai saya melahirkan bukan ingin menakut-nakuti para ibu dan calon ibu yang belum pernah merasakan operasi sesar.

Dulu tidak pernah terfikirkan nantinya kalau saya akan operasi dan bagaimana rasanya. Karna saya sangat optimis akan melahirkan normal seperti kebanyakan para ibu-ibu lainnya.

Selalu mengikuti apa kata bidan atau orang tua dulu-dulunya. Bangun tidur kepintu kibasin rambut sebanyak tiga kali kata orang tua dulu supaya lahirnya mudah. Pagi jalan pagi berjemur itu memang baik kesehatan ibu dan janin agar sehat dapat menghidup udara pagi yang segar. 

Usia kandungan 8 bulan makin rajin lakuin ritual (ealah bahasanya serem amat hehehe) maksudnya lakuin kegiatan yang berharap nantinya lahir normal. Sesering mungkin priksa rutin sama dokter spesialis kandungan untuk melihat perkembangan janin.

Pada usia kehamilan 39 weeks hari kamis malah merasakan kontraksi yang lumayan lama kira-kira 30 menit ada, belum terasa sakitnya karena setelah itu berhenti. Tetapi pagi hari dihari jumat tanggal 12 januari 2018 tidak tau pasti jam berapa rasanya pengen pipis terus ternyata ada bercak darah. Dalam hati rasanya seneng dan was was karena dirumah tidak ada orang takutnya brojol dirumah belum siapin perlengkapan juga. Sambil nunggu ortu dirumah saya nyiapin perlengkapan dan memberi kabar kepada suami kalau saya sudah ada tanda-tanda melahirnya.

Bidan desa datang (Bidan Tri) langsung kerumah setelah diberi kabar sama ibuku kalau saya mengeluarkan tanda-tanda melahirkan. Setelah diperiksa saya sudah bukaan satu, seneng banget donk difikiran sudah kebayang bakalan lahir normal. Langsung setelah dipriksa bidan kita semua kerumah sakit dengan perut yang sedang kontraksi ringan. Sampai rumah sakit jam setengah 3 sore menunggu di ruang IGD berjam-jam. jam stgh 5 baru dipindah ke ruang bersalin hingga jam 9 malam lebih.

Kenapa sampai jam 9 lebih karena saya akan dirujuk ke rumah sakit semarang yan lebih lengkap peralatannya karena nantinya bayi saya harus di inkubator. Sampai di rumah sakit semarang jam 11 langsung ditangani dokter keruang usg lagi untuk memeriksa apakah bisa normal atau tidak. Tiba-tiba dokter memanggil suami saya untuk melihat hasilnya. Dokter berkata ini kalau dilahirkan normal takutnya bayi stres langsung meninggal jadi jalan satu-satunya adalah operasi. Langsung saja suami menandatangani persetujuan dokter dalam hati aku terus membaca doa yang katanya agar hati tetap tenang jadi tensi tidak naik.
Ilustrasi Ruang Operasi

Para bidan menyiapkan perlengkapan operasi seperti baju operasi yang harus saya kenakan. Pukul setengah 12 malam saya masuk ruang operasi untuk pertama kalinya aku masuk dimeja operasi tepat ditengah-tengah ruangan dengan lampu yang sangat banyak. Aku siap tidak siap harus siap dan tidak takut, aku mencoba terus tenang. Dipasang ini itu selang oksigenlah apa lah banyak disuntik anastesinya tepat dipinggang tidak tau berapa kali suntikan saya rasa hanya dua kali dan itu rasanya sangat luar biasa sampai tangan bidannya saya genggam erat dengan spontan "Aaaaduh.. (pengen nangis rasanya" dok bolehkan suamiku ikut kesini katanya tidak boleh.

Suhu diruang operasi sangat dingin tidak tau berapa c° suhunya menggigil rasanya tubuhku. Obat bius mulai merasuk kaki hingga uluh hati mati rasa. Saya tidak berani melihat hanya tutup mata dengan sesekali aku melihat tangan dokter beraksi. Saya terkejut karena tiba-tiba pukul 00:34 anak saya lahir menangis hik hik gitu spontan saya ikut meneteskan air mata. perasaan tadi baru dibius kapan perut ini di iris??? ( heran ). Saat berjalannya operasi efek nya bikin mual dan saya muntah-muntah tapi katanya itu wajar. 

Selesai dijahit langsung pindah ke ruang biasa, awalnya tidak merasakan apa-apa. Beberapa menit kemudian aku menggigil teramat sangat berjam-jam gigi bergoyang sampai muka ini dikompres air hangat dengan dekapan pelukan ibuku 😢. Dalam hati ya allah ternyata segalak-galaknya ibuku dia sangat sayang dan kawatir sama aku (nangis). Terlihat sekali wajah ibuku yang sedih ndak mau makan dan minum.

Belajar bangun jalan ibuku juga yang bantu. Makasih emak ku 😢😭 tapi cucumu sudah diambil sama yang menciptakan. Suatu saat nanti dapet cucu lagi aku janji.

Terimaksih sudah membaca

No comments:

Post a Comment