navigasi menu

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, December 22, 2017

Sejarah Desa Ginggangtani Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan


Desa Ginggangtani terdiri dari 4 dukuh, yaitu Dukuh Krajan, Dukuh Tempel, Dukuh Ginggangsantri, dan Dukuh Kembanggading. Desa ini berbatasan dengan Desa Ngroto di daerah barat, Desa Jekerto di daerah utara, Desa Temurejo di daerah timur, dan Desa Glapan di daerah selatan.

Sebagai suatu daerah, Desa Ginggangtani mempunyai sejarah tersendiri mengenai bagaimana ia berdiri. Sejarah yang beredar di tengah masyarakat ini selanjutnya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjadi legenda.

Tiap–tiap dukuh mempunyai sejarah tersendiri. Dimulai dari Dukuh Krajan, Dukuh Krajan dalam arti bahasa jawa dalah kerajaan/keprabon (kromo) yang artinya ‘Negara kang kabawah ing raja’,‘ Deso kang dienggoni ing Lurah’, dan ‘ Pakarangan gadhulan marang abdi dalem’. Di Dukuh Krajan terdapat rupa bumi buatan “Masjid Baitul Izzah” yang didirikan pada tahun 1881. Masjid ini terbuat dari kayu jati oleh leluhur yang pada waktu itu letaknya di pinggir sungai, agar jamaahnya dapat berwudhu di sungai. Tokoh pendirinya yaitu Simbah Kyai Hasyim dan Simbah Kyai Nahrowi Hasyim.

Dukuh yang kedua adalah Dukuh Tempel. Dukuh Tempel yang tadinya berupa kali/sungai yang menjorok/lengkok, secara alami sungai itu dapat lurus sendiri. Bekas lekukan yang sudah menjadi daratan itu akhirnya ditinggali oleh penduduk secara turun temurun dan masuk ke dalam wilayah Desa Ginggangtani. Tokoh pendiri dukuh ini adalah Simbah Sukarlan 81 tahun sesepuh atau ketua RW 02.

Dukuh selanjutnya adalah Dukuh Ginggangsantri. Di wilayah Dukuh Ginggangsantri terdapat bangunan cagar budaya “MASJID DARUSSALAM” yang didirikan pada tahun 1838. Masjid Darussalam dibangun dengan material kayu jati yang sampai sekarang masih terjaga/baik/antik karena tiang sokonya dibuat bulat welon dan tinggi kira2 8 meter. Masjid dibangun dipinggir Kali Tuntang agar jamaahnya dapat berwudlu/bersuci dikali/sungai (karena jaman dulu belum ada kulah/tempat wudlu/padasan). Masjid “DARUSSALAM” mempunyai arti Alam kesejahteraan (akhirat), Alam/negeri yang aman, Surga yang ke-7 (Bahasa Arab). Pendirinya adalah Simbah Kyai Khodami, Simbah Kyai Sajad, Simbah Kyai H, Nahrowi Ali, Simbah Kyai Masyhuri, Simbah Kyai H, Muntaha, Kyai H. Ichwan Ali (semua sudah al-marhum) KH.Zuhri Wafa Muntaha al-hafidz (Penerus rois Kaum).

Lalu yang terakhir adalah Dukuh Kembanggading. Di Dukuh ini terdapat rupa bumi buatan “MASJID BAITUL MAKMUR” yang didirikan pada tahun 1968. Pada waktu itu masjid digunakan sebagai tempat istirahat para penjaga hutan/mandor hutan. Masjid “BAITUL MAKMUR“ yang mempunyai arti banyak hasil, banyak penduduk dan sejahtera, serba kecukupan, tidak kekurangan. Keistimewaan Dukuh Kembanggading yang kedua adalah adanya SENDANG MULYO, artinya tempat sumber air sebagai sumber penghidupan di wilayah Kembanggading baik di musim hujan /kemarau. Tokoh pendiri dari Dukuh Kembanggading adalah Simbah Kyai Abdul Qodir, Simbah Kyai Hasyim, Simbah Kyai Yahman.

Demikian sedikit cerita sejarah dari Desa Ginggangtani ini. Pesan saya jangan pernah melupakan sejarah apalagi sejarah tetang desa tercinta kalian. Terimakasih sudah membaca artikel saya.

Tuesday, December 19, 2017

Deskripsi Desa Baturagung Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan

Desa Baturagung

Baturagung adalah desa di kecamatan Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, Indonesia.
Baturagung merupakan desa yang cukup terpencil karena jauh dari kota, sekitar 3 Km dari pusat kota Gubug. Namu sekarang sudah mulai maju karena banyak dilakukan pembangunan-pembanguna desa untuk memajukan Desa Baturagung ini. Diantaranya adalah pembangunan jalan Cor dan SMP N 3 Gubug yang menjadi kebanggaan Desa Baturagung.

Baturagung desa di Kecamatan Gubug yang memiliki beberapa dusun diantaranya Ngemplik, Batur, Tutup, Lanjaran dan Mintreng. Batas Desa Baturagung adalah sebelah barat dengan Desa Tambakan, sebelah utara berbatasan dengan Ringin Kidul, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Demak yang dipisahkan oleh Sungai Tuntang dan sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Polaman Desa Jati Pecaron.

Mayoritas mata pencaharian masyarakat Baturagung adalah Petani dan banyak juga penduduk yang merantau ke kota-kota lain seperti Semarang, Jakarta, Surabaya, Kalimantan dan ada juga sebagai TKI di Arab Saudi, Korea, dan Taiwan, Hongkong, Jepang dan Malaysia. Karena banyak juga yang berpendapa “jika ingin kaya keluarlah dari desa“.

Mohon jika ada kekurangan bisa ditambahkan Inbok saya disini atau tambahan gambar yang berhubungan dengan desa baturagung. Terimakasih

Monday, December 18, 2017

Sejarah Terbentuknya Desa Pranten Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan

SEJARAH DESA PRANTEN

Desa Pranten adalah desa kecil, yang terletak di sebelah utara desa Gubug. Berdasarkan data pada tahun 2013 luas desa hanya 2,04 km persegi, dengan jumlah penduduk 2079 jiwa. Menurut penjelasan beberapa warga Pranten, bahwa nama Pranten sendiri adalah dari kata piranti. Memperhatikan nama Pranten sendiri, warga setempat mengatakan kalau itu berasal dari kata Piranti, yang kemudian berubah menjadi Pranten.


Tetapi ada juga yang mengatakan, bahwa nama Pranten adalah berasal dari kata Paranten. Berdasarkan kamus bahasa Jawa mengatakan, bahwa kata Paranten mempunyai arti orang hukuman atau orang buangan. Jika nama Pranten berasal dari kata piranti atau alat, berupa apa alat tersebut sehingga menjadi nama desa. Demikian juga kalau nama Pranten berasal dari kata paranten yang artinya orang hukuman atau orang buangan, lalu siapa yang menjadi orang hukuman atau orang buangan tersebut. Untuk baiknya, marilah kita simak cerita tentang berdirinya desa Pranten sebagai berikut : 
Jalan Desa Pranten

"cekidot.... dibaca yah baik-baik"

  • PEDUKUHAN KARANGPANAS

Menurut cerita dari orang-orang tua sekarang, bahwa pendiri desa Pranten adalah Ki Sakiyan yang juga disebut Mbah Songko atau Mbah Sasongko. Konon beliau berasal dari daerah Klaten, yang mengembara hingga sampai di desa Jatipecaron. Ki Sakiyan pergi dari Klaten, karena tidak setuju dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh kepala desanya. Karena tidak setuju dengan  kebijakan itulah, maka beliau seperti orang yang teringkirkan. Beliau lalu pergi dari Klaten  bersama istrinya, hingga sampailah di desa Jatipecaron. 

Beliau tinggal di pinggir sawah, yang terletak di sebelah selatan makam Mbah Lebai  (maaf bukan lebay lho) Jatipecaron. Karena semakin banyak warga yang bertempat tinggal di sekitarnya, akhirnya daerah tersebut jadilah pedukuhan. Ki Sakiyan menjadi ketua dukuh, dan oleh beliau untuk pedukuhan baru itu diberinya nama Karangpanas. Adapun batas pedukuhan Karangpanas itu dulu, mulai dari perbatasan antara desa Jatipecaron dan desa Pranten sekarang, hingga sampai di jalan besar kota Gubug.    

Sebagai ketua dukuh Karangpanas, Ki Sakiyan dibantu oleh seorang warganya yang bernama Ki Nurodin. Ki Sakiyan bertempat tinggal di sebelah utara dukuh Karangpanas, sedangkan Ki Nurodin tinggal di sebelah selatan. Menurut cerita bahwa Ki Nurodin sangat bertanggung jawab untuk menjaga keamanan, dengan setiap malam mengitari pedukuhan dengan membawa tombak pusaka miliknya yang bernama TOMBAK IJO. 

Konon pada suatu hari, Ki Nurodin mendapat laporan, kalau ada buaya besar berada di pinggir kali Tuntang. Dengan adanya buaya tersebut, warga pedukuhan Karangpanas jadi takut untuk pergi ke sungai. Dengan membawa tombak pusakanya, Ki Nurodin pergi ke pinggir kali Tuntang untuk mencari keberadaan buaya besar itu. Ketika melihat Ki Nurodin yang berada di pinggir sungai dengan membawa tombak pusaka, buaya besar itu lemas dan  seolah-olah seperti menyerahkan hidupnya. Melihat hal itu timbullah rasa kasihan dari Ki Sakiyan, dan buaya besar itupun  dibiarkannya hidup. Tetapi beliau minta, agar sampai besok buaya besar tidak boleh mengganggu warga Karangpanas.
  • MENJADI DESA PRANTEN

Karena warga pedukuhan Karangpanas bertambah banyak, akhirnya pedukuhan tersebut berubah menjadi desa. Ki Sakiyan dipilih menjadi lurah, sedangkan Ki Nurodin diberi kepercayaan menjadi Modin. Karena masih teringat untuk kepergiannya dari Klaten dulu seperti orang buangan, maka oleh Ki Sakiyan untuk desa yang baru itu diberinya nama Paranten, yang oleh warga akhirnya berubah nama menjadi Pranten. Seperti dijelaskan diatas, bahwa arti dari kata paranten adalah orang hukuman atau orang buangan.

Warga yang bertempat tinggal di sekitar rumah Ki Nurodin semakin banyak, sehingga daerah tersebut kemudian menjadi pedukuhan. Oleh warganya, untuk pedukuhan tersebut diberinya nama Tumbak Ijo. Nama tersebut diambil dari nama tombak pusaka, yang dimiliki oleh Ki Nurodin yang sebagai ketua dukuh. Dari nama Tombak Ijo itulah, untuk warga akhirnya menyebutnya dengan nama pedukuhan MBAK IJO.

  • MBAH SONGKO / MBAH SASONGKO

Ketika Mbah Sakiyan meninggal dunia, jenazahnya dimakamkan di desa Pranten atau tepatnya di Pranten Krajan. Adapun untuk nama Mbah Songko utowo Mbah Sasongko, sebenarnya itu sebutan dari warga setelah beliau wafat. Hal itu terjadi karena Mbah Sakiyan orang dari jauh, atau bisa dikatakan sebagai orang sengkan (jawa).  

Tidak lama kemudian Ki Nurodin juga wafat, dan oleh warga setempat untuk jenazah beliau dimakamkan di pinggir kali Tuntang. Hal itu mempunyai harapan, agar Ki Nurodin tetap menjaga keamanan desa Pranten dari adanya gangguan yang datang dari kali Tuntang.

Di sebelah makam Ki Nurodin, terdapat kedung sungai yang dalam. Kedung sungai itu mempunyai keanehan, karena entah itu hewan atau manusia yang hanyut dan lewat disitu, pasti akan muncul ke permukaan air. Hal ini tebukti ketika ada warga Gubug yang hanyut, dan selalu ditemukan di kedung sebelah utara makam Ki Nurodin.

Pada bulan Apit atau yang dinamakan tradisi apitan, warga setempat datang berziarah ke makam Ki Sakiyan dan Ki Nurodin. Hal itu merupakan suatu penghormatan pada beliau berdua, yang telah berjasa mendirikan desa Pranten. Hanya yang sangat memprihatinkan, cungkup makam Ki Nurodin sering tertimpa banjir dari kali Tuntang. Banyak ranting-ranting yang tersangkut di pagar makam, bahkan kayu nisannya tidak terlihat lagi karena terpendam lumpur.

Dengan adanya kebijakan dari pemerintahan Setenan Gubug (sekarang kecamatan), pedukuhan Mbak Ijo digabung dengan desa Gubug. Oleh pemerintahan desa Gubug, pedukuhan itu digabung menjadi satu dengan pedukuhan Pilanglor. Walaupun begitu untuk warga pedukuhan tersebut, masih juga menyebutnya dengan nama MBAK IJO.  
  • ADA MAKAM KETURUNAN SULTAN II JOGYA

Di depan cungkup makam Ki Sakiyan, terdapat tiga makam yang tertulis masih keturunan Sultan II Jogya. Adapun yang dimakamkan disitu adalah  RM. Admodihardjo meninggal tanggal 10 Desember 1911, Rr. Soenarti meninggal tanggal 9 Oktober 1909, dan RA. Koestinah meninggal tanggal 9 Nopember 1909. Pada setiap makam ada tulisan pada lempeng tembaga DB 310 004, sepertinya itu merupakan catatan inventaris yang menjelaskan, kalau yang dimakamkan adalah masih trah Kraton Ngayogyakarya.

Jika melihat silsilah dalam sejarah yang menyebutkan bahwa Sri Sultan Ngayogyokarto II adalah Raden Mas Sundoro, yang menggantikan ayahnya Hamengkubuwono I dan mendapat  gelar Sultan Hamengkubuwono II. Dengan demikian untuk ketiganya itu masih keturunan Sultan Hamengkubuwono II, walaupun hanya dengan ibu selir. 

Tetapi dengan adanya ketiga makam tersebut bisa menjelaskan, kalau ketiganya itu doeloe menyusul Ki Sakiyan, yang kemudian ikut menetap di desa Pranten. Dengan demikian bisa juga disimpulkan, kalau Ki Sakiyan juga masih trah keturunan kraton Ngayogyakarta. Bisa juga diduga kalau nama Sakiyan adalah nama samaran, agar tidak ada yang tahu siapa sebenarnya beliau itu. Tetapi yang penting sekarang, kita bisa tahu dan mengerti tentang riwayat berdirinya desa Pranten.

Jika terdapat kekurangan mohon bisa ditambahkan cerita maupun foto inbok disini. Sertakan sumber jika anda ingin membagikan cerita diatas orang yang baik bisa menghargai tulisan orang lain. Terimakasih

Sumber : wikipedia

Sunday, December 17, 2017

Sejarah Desa Gubug Kabupaten Grobogan

Kantor Kecamatan Gubug
Masyarakat Grobogan, lebih akrab menyebut Gubug dengan ejaan Nggubug. Hal ini lantaran kebiasaan lama yang kerap menambahkan Ng saat menyebut apapun yang berawalan dengan G.

Penamaan Gubug bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan memiliki sejarahnya sendiri. Secara bahasa, Gubug memiliki arti Rumah Kecil. Konon pada masa kerajaan, diperintahkanlah untuk membuka hutan untuk dijadikan pemukiman di wilayah Gubug.

Berdasarkan data yang dapat dihimpun Redaksi Direktori Grobogan, wilayah Gubug dahulunya merupakan kawasan hutan yang sangat lebat.

Berbagai macam tumbuhan termasuk pohon-pohon di dalam hutan ditebangi. Di tengah aktivitasnya membuka lahan hutan, tiba-tiba ditemukannya du buah Gubug (rumah kecil) di dalam hutan.
Hal ini membuat bingung banyak orang, sebab hampir tak mungkin di dalam belantara hutan sudah ada rumahnya. Sejak saat itulah wilayah tersebut disebut Gubug.

Cerita tersebut nampaknya cukup beralasan, sebab di wilayah Gubug (terutama di bagian selatan) masih banyak ditemui pohon-pohon besar khas hutan.

Kodisi Geografis Gubug
Gubug memiliki geografis datar, kondisi ini sangat cocok untuk pertanian. Lokasi Gubug berada sekitar 30 KM dari pusat Kota Purwodadi Grobogan.

Sebagai sebuah kecamatan, terdapat 21 desa yang masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Gubug. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Tegowanu di sebelah barat, Kedungjati di selatan, Godong di timur dan Kabupaten Demak di sebelah utara.

Berikut Desa yang ada di Kecamatan Gubug :
  1. Baturagung
  2. Gelapan
  3. Ginggangtani
  4. Gubug
  5. Jatipecaron
  6. Jeketro
  7. Kemiri
  8. Kunjeng
  9. Kuwaron
  10. Mlilir
  11. Ngroto
  12. Papanrejo
  13. Penadaran
  14. Pranten
  15. Ringinharjo
  16. Ringinkidul
  17. Rowosari
  18. Saban
  19. Tambakan
  20. Tlogomulyo
  21. Trisari
Simpang Tiga Gubug, Jalan arah purwodadi dan kedungjati
Lantaran menjadi pusat pemerintahan tingkat kecamatan, di Gubug berdiri berbagai macam perkantoran baik negeri maupun swasta. Selain itu, karena menjadi pusat perekonomian, di tempat ini juga berdiri banyak swalayan dan juga terdapat sebuah pasar besar yang dinamakan Pasar Umum Gubug.
TELKOM Gubug
Berbagai sarana prasana juga terdapat di Gubug, seperti sekolah-sekolah, masjid raya, Puskesmas hingga terminal kendaraan lintas provinsi.

Itulah gambaran singkat mengenai Sejarah Gubug, Dua Rumah Kecil di Hutan Belantara. Semoga dapat menambah wawasan tentang kedaerahan untuk warga Grobogan dan khususnya Gubug sendiri.

Jika terdapat kekurangan mohon bisa ditambahkan cerita maupun foto inbok disini. Sertakan sumber jika anda ingin membagikan cerita diatas orang yang baik bisa menghargai tulisan orang lain. Terimakasih